Menelusuri
Awal Masuknya Islam di Sulsel
MAKAM Dato Tiro. Ada
tiga imam yang diakui sebagai penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan, yaitu
dato Ribandang, dan Dato Tiro. Dato Tiro atau khatib bungsu bernama Abdul
Jawad, menyebarkan Islam di wilayah bahagian selatan Sulawesi Selatan, utamanya
di Bulukumba. Dato Tiro menyebarkan Islam dengan cara menekankan pelajaran
Tasawwuf kepada rakyat sesuai dengan keinginan masyarakat yang lebih menyukai
hal-hal yang bersifat kebatinan. (Foto: Asnawin)
--------------------
Menelusuri
Awal Masuknya Islam di Sulsel
Oleh: Amir Djumbia
(Staf Publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar)
-sumber: http://www.tribun- timur.com/ view.php? id=48899&jenis=Opini
- Jumat, 14 September 2007
Berbagai peninggalan sejarah dan purbakala di Sulawesi Selatan (Sulsel) sampai
sekarang ini masih banyak yang belum terungkap, termasuk keberadaan masjid di
Mangallekana Kabupaten Gowa dan pelaksanaan Islam sebelum abad 16.
Kronologis keberadaan Islam sebagai bukti sejarah, Islam di Sulsel masih
membutuhkan pengkajian yang mendalam supaya sejarahnya lebih objektif.
Kehadiran budaya Islam pertama kali di Kerajaan Gowa jauh sebelum diterimanya
agama Islam sebagai agama resmi kerajaan. Agama Islam dibawa oleh para pedagang
Muslim dari Arab, Parsia, India, Cina, dan Melayu ke Ibu Kota Kerajaan Gowa,
Somba Opu.
Di Mangallekana
Pada abad ke-15, yaitu pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-12 bernama I
Monggorai Dg Mammeta Karaeng Bonto Langkasa Tunijallo (1565-1590) dialah yang
memberikan fasilitas bagi para pedagang-pedagang Muslim untuk bermukim di
sekitar istana kerajaan.
Para pedagang juga diberi kemudahan untuk mendirikan masjid di Kampung
Mangallekana. Ini merupakan masjid tertua yang pernah berdiri di Sulsel.
Menurut perkiraan, penduduk Makassar pada abad ke-16 sudah memeluk Islam.
Mereka sudah ada di masyarakat dan berbaur dengan masyarakat Gowa atau
berinteraksi sosial antar individu dan berintreraksi jual-beli atau hubungan
dagang. Itu berlansung lama.
Suasana seperti itu berlangsung lama di dalam wilayah Kerajaan Gowa dan di luar
pusat Kerajaan Gowa utamanya dalam hubungan dengan kerajaan-kerajaan di
Ternate, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang jauh lebih dahulu memeluk Islam.
Raja Gowa
Menurut lontara, pada tahun 1605 Masehi, Islam diterima secara resmi di
Kerajaan Tallo dan Gowa disusul dengan masuknya Islam Raja Tallo I Sultan
Abdullah Awwalul Islam dengan Raja Gowa XIV, I Mangarangi Dg Manrabbia Sultan
Alauddin pada tanggal 22 September 1605 Masehi.
Kedua raja ini masuk Islam pada malam Jumat. Raja Tallo keesokan hari langsung
salat Jumat di Masjid Tallo bersama rakyatnya yang Islam. Menurut catatan
Harian Lontarak yang mengizinkan Raja Tallo dan Raja Gowa masuk islam adalah
khatib Abdul Makmur Dato Ri Bandang asal Kota Minangkabau.
Dua tahun kemudian, yakni tahun 1607, seluruh rakyat Tallo dan Gowa telah
berhasil diislamkan. Dengan penekanan dakwa mengembangkan syariat Islam di
kalangan rakyat, Dato Ri Bandang berhasil menyebarkan Islan di kalangan karajaan.
Berbeda dengan sahabatnya, khatib yang bungsu bernama Abdul Jawad, menyebarkan
Islam di wilayah bahagian selatan Sulsel, utamanya di Bulukumba, dengan cara
menekankan pelajaran Tasawwuf kepada rakyat sesuai dengan keinginan masyarakat
yang lebih menyukai hal-hal yang bersifat kebatinan.
Khatib Abdul Jawad inilah yang menjadi muballigh sampai akhir hayatnya di
Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, sehingga digelar sebagai Dato
Tiro.
Kerajaan Luwu
Khatib Sulaiman yang menyebarkan Islam di Tanah Luwu berhasil mengislamkan Datu
Luwu La Patiware Dg Parrebung, kemudian diberi gelar Sultan Muhammad. Khatib
Sulaeman menyebarkan agama lebih menenkankan pada pengetahuan tauhid, yang
diajarkan kepada masyarakat yang berkaitan pada kepercayaan Dewa Seuwae.
Sebagai ganti Dewa Seuwae masyarakat diajarkan untuk mempercayai adanya Allah
SWT. Khatib Suleman meninggal di Luwu Utara dan dimakamkan di Desa Patimang
sehingga juga disebut Dato Patimang.
Suasana masyarakat Sulsel pada sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17
sibuk mempelajari agama baru, Islam. Kala itu Islam disebarkan dan diajarkan
oleh ketiga ulama dari Minangkabau, Dato Ri Bandang, Datok Ri Tiro, dan
Dato Patimang.
Ketiga penyiar Islam ini berkerja sama dengan bangsawan dan kerabat kerajaan di
istana raja. Para bangsawan dan kerabat kerajaan berusaha secara
berangsur-angsur mengetahui dan memahami ajaran-ajaran Islam melalui pengajian,
pengkajian Al Quran, salat berjamaah, dan diskusi-diskusi.
Melalui Pedagang
Kalau kita melihat dari sumber sejarah, bahwa penyebaran Islam di Indonesia
khususnya di Sulsel, dilakukan oleh parah saudagar Muslim yang mengadakan
kontak dagang antarpulau baik dengan pedagang dalam negeri maupun dengan dagang
antarnegara, dapatlah dipahami bahwa yang mula-mula membawa agama Islam ke
Sulsel adalah pelaut-pelaut dari Arab, kemudian saudagar-saudagar India, dan
Iran.
Selanjutnya Islam disiarkan oleh pedagang-pedagang dari Melayu dan dari Jawa.
Berdasarkan kajian sejarah Islam sudah berpengaruh di Jawa sekitar tahun
1500-1550 M yaitu pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.
Pengaruh Islam semakin kuat setelah Malaka direbut oleh Portugis pada tahun
1511 M. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, semakin banyak kerajaan
Islam di Pulau Jawa dan sekitarnya.
Kerajaan di pesisir pantai di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulsel, dan Maluku mulai
berinteraksi dengan pedagang-pedagang Melayu yang beragama Islam. Berdirinya
kerajaan-kerajaan di pesisir Pulau Jawa sekitar tahun 1500-1550 M berlangsung
secara bertahap dan didahului oleh proses islamisasi yang berkesinambungan di
kalangan masyarakat.
Pengaruh Tionghoa
Sebagaimana dicatat dalam sumber sejarah bahwa, Islam di Jawa juga disiarkan
oleh seorang pelancong Tionghoa Muslim bernama Ma Huan. Ma Huan yang membawa
seorang pembesar Tiongkok, kala itu, mengunjungi Tuban, Gresik, dan Surabaya,
daerah di pesisir utara Pulau Jawa.
Sebangian besar orang Tionghoa di wilayah pesisir utara Pulau Jawa pada tahun
855 M telah memeluk Islam dan orang-orang pribumi yang penyembah berhala ikut
memeluk Islam seperti orang Tionggoa itu.
Kesadaran orang-orang Melayu memeluk Islam tumbuh dan berkembang di Sulsel
tidak lepas dari aktivitas perdagangan yang berlangsung sampai ke kepulauan
nusantara terutama di Maluku.
Seorang Muslim dari Persi yang pernah mengunjungi belahan timur Indonesia
memberikan informasi tentang masuknya Islam di Sulsel. Ia mengatakan bahwa di
Sula (Sulawesi) terdapat orang-orang Islam pada waktu itu kira-kira pada akhir
abad ke-2 Hijriah. Dia juga yang mengabarkan tentang kehadiran Islam di
kalangan masyarakat Sulsel.
Menurut dia, Islam di Sulsel juga dibawa sayyid Jamaluddin Akbar Al-Husaini
yang datang dari Aceh lewat Jawa (Pajajaran). Sayyid Jamaluddin datang atas
undangan raja yang masih beragama Budha, Prabu Wijaya yang memerintah Pajajaran
pada tahun 1293-1309.
Sayyid Jamaluddin Akbar Al Husaini melanjutkan perjalanan ke Sulsel bersama
rombongannya 15 orang. Mereka masuk ke daerah Bugis dan menetap di Ibu Kota
Tosorawajo dan meninggal di sana sekitar tahun 1320 M.
Inilah suatu bukti bahwa jauh sebelum Islam diterima secara resmi sebagai agama
kerajaan di Sulsel, pemahaman Islam sudah ada di masyarakat lewat interaksi
sosial dan hubungan dagang antarindividu maupun berkelompok.
Hak Istimewa
Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-10, di Sulsel pernah menetap seorang dari
Jawa bernama Anakoda Bonang yang membawa saudagar melayu Muslim yang memimpin
perdagangan dari Pahang, Patani, Johor, Campa, dan Minangkabau.
Rombongan Anakoda Bonang ini diberi hak istimewa oleh raja. Pada masa itu
Sulsel sudah menjalin hubungan dengan berbagai daerah di Sumatera, Jawa,
Malaka, dan Hindia. Di Makassar, pada masa itu, sudah ada koloni dagang
orang-orang asing dari daerah itu.
Sehubungan dengan strategi orang-orang Melayu yang mendirikan kerajaan-kerajaan
yang berpaham Islam di sekitar Pulau Jawa, dalam lontara di jelaskan, Raja Gowa
ke-12, I Manggorai Daeng Mammeta Tunijallo (1565-1590) bersahabat baik dengan
raja-raja di Pulau Jawa bagian barat. Raja Gowa memberikan fasilitas kepada
para saudagar Muslim untuk menetap di sekitar Istana Kerajaan Gowa.
Islam di Sulsel mencapai puncak keemasannya sekitar awal abad ke-18 yang
ditandai dengan berlakunya syariat Islam dalam berinteraksi so